Foto Penulis

I Wayan Bagus Perana Sanjaya

Doyan Terobos Zona Nyaman

Karya

Bali Punya Nilai

Bio Penulis

Tidak ada kata terlambat, mungkin ini yang mencerminkan kisah seorang pemuda yang kerap disapa BP ini. Masa SMP yang dihabiskan dengan mengikuti paskibraka dan pramuka, namun tak disangka, saat menginjakkan kakinya di SMAN 3 Denpasar, pemuda ini memilih hal baru yang sangat berbeda. Yaitu menulis. 

 

Ketika orang-orang memilih berada di zona nyaman mereka, namun hal ini tidak berlaku untuk I Wayan Bagus Perana Sanjaya. Pemuda kelahiran Denpasar, 20 April 2000 ini sangat suka mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman. Salah satunya dalam hal ekstrakulikuler. "SMP itu aku ikut ekstra paskibraka dan pramuka karena saat itu aku masih terbuai dengan jargon kebangsaan," aku pemuda asal Ubud ini kala dihubungi via daring oleh Tim Madyapadma pada Selasa (17/12). 

 

"Tapi karena ingin belajar cara mengungkapkan pemikiranku, jadi aku belajar nulis karena salah satu medianya adalah tulisan. Dan aku memulai semuanya semenjak bergabung di Madyapadma," kenang pemuda berzodiak Aries ini.

 

Walau ini adalah kali pertamanya mencicipi dunia jurnalistik khususnya tulis menulis, namun tampaknya BP tidaklah mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan bukanlah kesulitan yang didapatkan pemuda pecinta warna biru ini. Melainkan pengalaman baru yang tak mampu lepas dari ingatannya. "Tulisan yang paling aku inget itu adalah berita feature yang judulnya Mengenang G 30 O IPS. Tulisan itu membahasa tentang kejadian 30 Oktober 2016, ketika aku menginisiasi teman-teman angkatanku untuk menggunakan sepatu bebas pas hari Jumat, dimana itu adalah hal yang "ilegal" bagi siswa kelas X sedangkan di peraturan sekolah sudah diperbolehkan. Lebih tegasnya, tulisan ini mengecam budaya senioritas yang masih kental di Trisma (SMAN 3 Denpasar - red) kala itu. Dan saat itu aku mendapat dukungan sekaligus serangan dari banyak pihak," tutur putra dari pasangan I Wayan Gede Adiperana dan Ni Luh Made Armini.

 

Ingin menjadikan tulisan sebagai tempatnya menuangkan pemikiran-pemikiran unik nan kreatif miliknya, Bagus Perana benar-benar mewujudkan perkataanya itu. Satu tahun setelah ia ditempa dibawah naungan Madyapadma, lebih tepatnya pada tahun 2017, pemuda pecinta pizza ini akhirnya melahirkan buku yang berisi segenap pemikirannya mengenai Bali. Berjudul Bali Punya Nilai. "Singkatnya bukunya itu mengobrak abrik kultus balisme yang sebenarnya sudah cukup menyimpang dari nilainya sendiri, seperti menyucikan buku, bahkan ada upacara khusus yang kerap mengupacarai buku. Tapi justru sangat jarang membaca kitab atau sastra, karena ada anggapan hanya orang suci yang boleh membaca kitab dan itu salah. Atau menyakralkan setiap jengkal tanah Bali, tapi masih doyan menimbun sampah," papar si sulung dari dua bersaudara itu.

 

Bagus Perana membuat semua tulisannya bukanlah tanpa alasan atau pengalaman yang jelas. Berasal dari keluarga yang mengagungkan kultus-kultus Bali membuat hati kecilnya bergejolak, "Karena memang aku hidup di dua irisan dunia yang berbeda, di keluargaku sangat mengagungkan kultus bali yang seperti itu, sedangkan aku yang menempuh pendidikan dan menemukan hal yang bersimpangan dengan kultus kultus itu sehingga lahirlah sebuah buku hasil karya ku," jelas mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Udayana ini.

 

Walau semua ide berasal dari lingkungan sekitar, namun buku karya Bagus Perana ini tak luput dari kesalahan. Tak ada sesuatu yang sempurna, "Dulu karena itu adalah buku perdanaku, jadi daya analisisku masih lemah dan penuturanku juga belum menarik. Rada geli sih kalau aku baca bukunya sekarang, jadi pengen banget ngeluarin edisi revisi," celetuk pemuda yang mengidolakan Ananta Wijaya ini.

 

Keinginan Bagus Perana dahulunya yang hanya ingin memperdalam kemampuan menulisnya. Namun kini, ia telah menerbitkan satu buku karyanya seorang diri yang dapat dinikmatii semua orang. "Pesanku buat kalian penulis muda, jiwai lah karya kalian, anggap bahwa karya kalian itu akan menjadi potongan jiwa kalian yang akan abadi, jangan sekadar ngejar kuantitas atau hal materiil lainnya," pesan Bagus Perana untuk para penulis muda. (nam)