Foto Penulis

Mutiara Diva Ramadhani

Menulis Bukanlah Sebuah Rencana

Karya

Nyegara Gunung, PPDB : Kekacauan Tak Kunjung Henti, Sang Penari Topeng, Thailand Series 2, Gelang Takdir, Dalam Kenangan (Buku Kumpulan Puisi)

Bio Penulis

Mutiara tak pernah merencanakan dalam hidupnya akan bersenggolan dan jatuh ke dalam dunia menulis. Namun, rupanya takdir berkata lain.

 

"Tulisanmu bagus" itulah ucapan yang kerap didengar oleh Mutiara Diva Ramadhani. Gadis kelahiran Denpasar itu acapkali menerima pujian terkait tulisannya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Hingga akhirnya saat Mutiara duduk di kelas tiga, sang wali kelas sekaligus pembina ekstra sastra pada saat itu menawarinya untuk bergabung dengan ekstra sastra. Sebab baginya tulisan Mutiara selalu bagus. Mutiara kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar mulai menulis cerpen. "Sering buat cerpen yang sedih-sedih gitu." tutur gadis yang menyukai warna pink tersebut. Hingga saat duduk di Sekolah Menengah Pertama dara berzodiak Leo itu mulai mengikuti lomba-lomba menulis cerpen juga baca puisi. Pada akhirnya Ia juga menghiasi masa-masa SMA nya dengan menulis beberapa buku.

 

Gadis pecinta coklat ini mulai menulis beberapa buku saat dirinya duduk di bangku SMA. Terdapat enam buku yang berhasil ditulisnya, satu di antaranya berjudul Sang Penari Topeng. “Ada empat cerita di buku itu yang semua latarnya tentang anak yang lahir dari keluarga yang biasa aja dan mereka harus survive untuk hidup," paparnya saat diwawancarai via daring oleh Tim Madyapadma pada Kamis (17/12). Juga karyanya bersama teman-teman yang di antaranya Nyegara Gunung, PPDB: Kekacauan Tak Kunjung Henti, Thailand Series 2, Gelang Takdir, dan Dalam Kenangan. Akan tetapi, siapa sangka karya yang justru membekas didirinya hingga kini bukanlah buku yang dibuatnya seorang diri. Namun, buku itu justru Gelang Takdir sebab karya itu seolah wujud dari pikiran fantasi Mutiara.

 

Disetiap perjalan hambatan akan selalu ada, begitu juga yang dialami Mutiara dalam setiap langkah sebagai seorang penulis. Gadis yang gemar menonton film itu mengaku sering kali terbentur jalur buntu, kehabisan ide. "Aku nggak mau nulis kalau aku nggak pengin. Kalau lagi ada inspirasi ya aku nulis, kalau nggak ada yaudah enggak. Aku nggak mau maksain karena nggak mau hasil karyaku nggak sesuai," tegas Mutiara. Putri dari pasangan Bima Riawan dan Ni Wayan Adnyani ini mengaku jika inspirasinya itu tiba-tiba saja datang disaat yang tak terduga. Dirinya juga mengaku jika sudah menulis, tiba-tiba saja di tengah jalan kerap kehabisan kata-kata.

 

Dibalik hambatan yang dirasakan. Mutiara mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi kesulitannya tersebut. Menurut gadis yang berusia 18 tahun itu sebaiknya diam sejenak untuk menenangkan dari semrawut kata-kata di benak. Hingga ide itu pun muncul kembali, tanpa berusaha diperas keras. "Kalau misalnya aku ragu sama tulisanku, solusinya dari Kak Ananta, pembinaku, itu kalau nulis jangan di tengah jalan lihat ke belakang. Soalnya kalau lihat tulisan di tengah jalan dan merasa jelek malah bakal menghambat dan nggak jadi," ungkap Mutiara.

 

Berdasarkan pengalamannya dalam menulis Mutiara mengungkapkan bahwa "Kalau nulis itu jangan dipaksa, jangan kekejar." Baginya mengetahui gaya diri sendiri dalam menulis adalah hal yang penting sebagai ciri khas seorang penulis. "Begitu orang melihat karya atau tulisan kita orang itu tau ini yang nulis siapa sekaligus membuat orang menunggu karya kita karena kita memiliki gaya yang berbeda dengan yang lain." pesannya di penghujung wawancara. (mo)