Foto Penulis

Ni Made Yani Savitri Devi

Selalu Ambil Segala Kesempatan

Karya

Kumpulan Karikatur : Polemik Negeri, Thailand Series 2, Inovasi Material Dari Cangkang Keong Mas, Riset Madyapadma 2020, Politik, Konflik Nan Menggelitik, Hari Ini Masih Ngebully? Nggak Jaman!

Bio Penulis

Manik mata Yani Savitri selalu berbinar tiap kali pandangannya bertabrakan dengan cat warna-warni. Dari Taman Kanak-kanak sampai bangku SMA, Yani Savitri tak pernah lepas dari kemilau seni. “Karena aku gak pandai nulis atau pun ngomong depan orang banyak, mungkin menggambar jadi caraku sendiri menuangkan pikiranku,” jelas Yani Savitri.

 

Kalau diibaratkan dalam sebuah palet cat warna, maka Ni Made Yani Savitri boleh jadi bagian dari warna kuning terang. Ceria, penuh semangat, juga hangat tutur katanya. Gadis berambut ikal itu selalu dengan mudah bergaul dengan modal senyum lebarnya. Rasanya dalam situasi pelik sekalipun, gadis kelahiran Denpasar, 13 Januari 2003 ini masih dapat melempar senyuman. Tapi, tak hanya doyan mengumbar senyum, gadis penggemar teh tarik ini juga suka menggambar. Lebih tepatnya, sudah jatuh hati sedari kecil. "Kalau nggak salah itu, aku mulai waktu TK, aku ngelihat menggambar itu seru banget! Jadi sampai sekarang menggambar udah jadi salah satu hobiku," ungkap putri dari pasangan I Gede Putu Suwitra dan Putu Suantini ini kala dihubungi via daring oleh Tim Madyapadma pada Senin (14/12).

 

Bakat Yani sebetulnya warisan dari sang ayah, Putu Suwitra. Terlebih lagi semasa Taman Kanak-kanak, bakat itu terus dipacu oleh gurunya. “ Setiap pulang sekolah dikasi kertas kosong untuk diwarnai. Nanti kita cepat-cepatan gitu buat nyelesain gambaran masing-masing,” ucap gadis asal Tabanan ini. Masih terekam jelas dalam ingatannya, lukisan suasana bawah laut yang jadi lukisan favoritnya sewaktu itu. “Menggambar suasana laut dalam waktu tiga jam di ukuran kertas besar. Itu berkesan banget buat aku yang masih TK,” aku anak kedua dari tiga bersaudara ini.

 

Lalu siapa yang menyangka, dari lukisan bawah laut yang goresannya masih berantakan dan campuran warnanya masih asal-asalan. Setelah diasah berulang kali, kini gadis yang masih duduk di bangku SMA itu telah berhasil menerbitkan sebuah buku karikatur bertajuk Polemik Untuk Negeri. “Isinya kumpulan karikatur yang menggambarkan isu-isu polemik yang lagi panas di Indonesia saat itu, contohnya itu kaya sistem zonasi untuk penerimaan peserta didik baru dan perspektif orang tua terhadap pendidikan anak perempuan," papar gadis pecinta pizza ini.

 

Namun, bukan berarti Yani dapat memperolehnya dengan sekali jentikan jari. Ada perjuangan yang selalu menemani setiap langkahnya. "Waktu itu kendalanya lumayan banyak, mulai dari waktu yang mepet banget dan harus buat 80 karikatur. Proses saat nyari ide itu yang paling susah menurutku. Karena agar penikmat dapat ngerti apa maksud dari karikatur yang kita buat," tutur gadis yang pula gemar bermain musik ini.

aafa

Walau mesti menghadapi berbagai tantangan dan rasa lelah sudah menggelayutinya. Tapi Yani memandang proses tersebut akan membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih baik lagi. “Dari sana aku mulai belajar bagi waktu dan belajar banyak dari referensi untuk karikaturku. Akhirnya semua perjuanganku terbayar waktu buku Polemik Untuk Negeri itu diluncurkan," ucap Yani.

 

Andai kata sewaktu TK dulu, Yani malu-malu melukis di hadapan gurunya, mungkin saja namanya tak akan pernah tersemat di dalam buku Polemik Untuk Negeri. “Kesempatan tidak datang dua kali! Kita masih muda, kalau ada peluang dan kesempatan, jangan disia-siakan," pesan Yani Savitri mengharapkan semangat dan keberanian dari remaja lainya. (nam)