Ni Nyoman Galuh Sri Wedari
Melahirkan Karya Yang Abadi
Karya
Teluk Benoa: Magnet di Kaki Pulau Bali, Mencari Sekolah Manusia, Madyapadma Rumahku, Madyapadma Hidupku, Tombak Tumpul Pendidikan Indonesia, Siapkah Kita Menjadi Mahasiswa?, Kampus Merdeka 'Membuka Makna'
Bio Penulis
Bak mendapat bisikan dari seorang malaikat, Galuh terjun ke dunia Jurnalistik karena kakaknya. "Waktu itu aku disaranin sama kakakku untuk ikut mading aja, karena itu aku bisa jadi seperti sekarang, mungkin kakakku adalah utusan dari Tuhan," kenang Galuh kala dihubungi via daring oleh Tim Madyapadma (17/12).
Semua berawal dari kecintaan Ni Nyoman Galuh Sri Wedari terhadap seorang pujangga yang tak lain adalah Chairil Anwar. Terlebih lagi semasa SD, bakat menulisnya selalu dipacu oleh gurunya. “Guru bahasa Indonesiaku waktu SD sepertinya melihat potensi dalam diriku jadi beliau mendorong aku untuk bisa menulis dan membaca puisi hingga turut ikut berlomba," ungkap gadis kelahiran Denpasar, 27 Agustus 2000 ini. Dengan bekal kemampuan sastra dari sang guru, juga sosok ayah yang gemar menonton siaran berita di televisi membuat gadis berkulit putih ini tertarik dengan dunia jurnalistik. Semakin hari, kecintaanya terhadap dunia jurnalistik kian bertambah, "Saat aku SMA, aku sisihin uang jajan untuk beli koran dan majalah di toko kelontong deket Trisma. Jadi itu juga yang menguatkan aku untuk menjadi penulis," aku gadis berzodiak virgo ini. Tak hanya itu, hingga kini gadis yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Udayana ini tetap teguh untuk menekuni bidang jurnalistik, "Aku juga gak tahu kenapa aku bisa memilih jurnalistik, tapi yang aku sadari jurnalistik ini bisa buat aku jatuh cinta berkali-kali," ungkap putri dari pasangan I Made Mertha Yasa dan Ni Made Sugiartini.
Ketika mengenang masa putih abu-abunya di SMA Negeri 3 Denpasar, gadis asal Denpasar merasa tak salah pilih melabuhkan hatinya kepada Madyapadma Journalistic Park. Madyapadma semakin membuat bakat Galuh berkembang. Tak tanggung-tanggung, Galuh telah melahirkan empat buku selama di Madyapadma. Mengikuti Ekspedisi, kegiatan tahunan Madyapadma menjadi awal mula Galuh dalam menghasilkan karyanya. "Buku pertamaku itu di tahun 2016 yang isinya berita feature dengan tajuk Berlian Di Kaki Pulau Bali," kata gadis yang juga cinta petualangan ini. Tak puas dengan satu buku, Galuh kembali menerbitkan tiga buku untuk melengkapi koleksi karyanya. "Buku kedua dan ketigaku hasil dari seleksi pengurus yang berjudul Madyapadma Rumahku, Madyapadma Hidupku dan Tombak Tumpul Pendidikan Indonesia. Buku keempat itu buku yang bertajuk Mencari Sekolah Manusia," jelas gadis asal Denpasar ini. Seluruh buku yang dihasilkan adalah bentuk kontribusinya untuk Indonesia.
Banyak memori proses penulisan buku yang masih melekat erat di benak Galuh. Kala melakukan wawancara di Pulau Serangan yang sedang dalam tahap pembanguan ulang untuk merampungkan tulisannya misalnya. "Waktu itu aku gak tahu kalau serangan lagi dalam tahap pembangunan ulang dan ternyata disana banyak intel-intel. Untungnya aku selamat dan gak diikutin sama intel," canda gadis yang suka es teh ini. Rasa waswas menyelimuti diri Galuh saat wawancara sebab, "Itu jadi cukup berbahaya karena di Serangan itu aku mengangkat tentang reklamasi pulau serangan, mulai dari sejarah hingga perjuangan masyarakat Serangan saat reklamasi dilakukan. Aku lebih banyak wawancara narasumber disana bagaimana mereka tidak berdaya karena pemerintahan orde baru," papar mahasiswa program studi Sosiologi ini.
Bak kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup. Galuh Sri Wedari juga merasakan hal serupa, peluncuran buku miliknya menjadi pengalaman yang begitu berharga, "Tulislah, karena jika kamu menulis apapun kamu sudah menjadi penulis. Jangan menetapkan standar yang bagus karena sewaktu-waktu standarmu bisa saja berubah. Targetkanlah karya yang baik karena karya yang baik adalah karya yang selesai. Jadi selesaikanlah karyamu, urusan penilaian orang lain itu adalah bonus. Jangan lupa banyak-banyak membaca, dengan membaca kamu bisa tahu apa yang harus kamu tulis. Semangat untuk penulis-punlis muda, tetap semangat, dan abadi," pesan anak bungsu itu menyemangati. (nam)