Ni Kadek Ayu Cindy Yulita
Zona Baru, Karya Baru
Karya
Research of Bio-material, Dalam Kenangan (Buku kumpulan puisi), Harta Karun Bali Yang Terlupakan, Seperti Kucing (buku kumpulan puisi), Budaya Bali Darurat Komersialisasi, PKB Seni Pertunjukan
Bio Penulis
Mencoba adalah salah satu proses dalam kehidupan. Berani mencoba artinya sudah berani untuk keluar dari zona nyaman. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh gadis yang kerap disapa Cindy ini.
"Sebenarnya awal aku masuk ke dunia jurnalistik itu coba-coba sih, tepatnya waktu SMA," ungkap Ni Kadek Ayu Cindy Yulita. Dulunya, gadis kelahiran Denpasar, 8 Juli 2000 merasa bimbang sebab hanya diperbolehkan memilih satu ekstrakurikuler kala SMA. Saat SMP, Cindy pernah mencoba paskibraka. Namun, Cindy tidak betah menggerakkan badannya untuk menghasilkan formasi indah hingga ia berpindah ke pramuka dan PMR. Namun, tak kunjung mendapat kenyamanan.
Sempat ingin mencicipi bidang tarik suara, namun sebelum ia menjatuhkan pilihannya muncul satu ajakan yang membuat gadis berzodiak cancer ini berpaling, "Awalnya aku itu sempet mau masuk VOG (ekstra vocal di SMAN 3 Denpasar -red), tapi temenku minta aku ikut dia untuk masuk ke satu ekstra yaitu Madyapadma Journalistic Park (MP). Akhirnya aku milih MP deh," tutur Cindy. Walaupun buta sepenuhnya dengan dunia jurnalistik, Cindy tidak merasa minder. Perlahan ia mencicipi satu persatu bidang di MP. Hingga akhirnya Cindy jatuh hati dengan bidang yang redaksi. "Aku dulu selalu percaya diri, walaupun aku tahu aku gak punya basic journalistik, tapi toh semua punya awal kan? Jadi tergantung usahaku sendiri untuk menyelesaikan awal yang sudah aku mulai," tegas gadis asal Karangasem ini. Bak bunga yang sedang dalam proses mekar, begitu pula dengan Cindy yang kemampuannya semakin berkembang setiap harinya.
Cindy adalah satu diantara jutaan manusia yang menjadi bukti nyata bahwa mencoba hal baru akan membawa kita ke dalam dunia baru yang lebih menyenangkan. Tak hanya mendapat pengalaman, anak kedua dari dua bersaudara ini juga merasakan banyak manfaat setelah terjun ke dunia jurnalistik. "Melalui menulis aku bisa belajar banyak hal, misalnya tentang pendidikan, budaya, kadang paham hal baru tentang politik, manusia dan alam," papar Cindy. Semakin hari gadis yang hobi menonton film ini semakin melaju hingga bisa melahirkan sebuah buku bersama teman seperjuangannya dengan tajuk PKB 40. "Semuanya itu berawal saat aku dapet tugas ngeliput kegiatan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang ke-40. Jadi setiap hari kita harus ngeliput dan menulis beritanya. Aku gak nyangka ternyata hasil tulisanku sama temenku Yuko bisa jadi satu buku," ucap putri dari pasangan I Komang Sukerta dan Ni Wayan Wadiani kala dihubungi via daring oleh Tim Madyapadma pada Jumat (18/12).
Bukan perkara mudah bagi Cindy untuk menerbitkan sebuah buku. Jatuh bangun telah dihadapi oleh Cindy dalam proses peluncuran buku perdananya itu. “Waktu nulisnya itu kita harus kejar-kejaran sama waktu, begitu juga waktu proses cetaknya juga harus selesai dalam kurun waktu yang singkat," kenang gadis yang kini tengah menempuh studi di Unversitas Diponogoro itu. Setelah melewati semuanya, akhirnya buku PKB 40 siap diluncurkan. Walau masih terdapat kecacatan pada ukuran dan daftar isi, namun itu menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam hidup Cindy.
Andai saat itu teman gadis yang kini tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa UNDIP tidak mengajaknya bergabung bersama ekstrakurikuler jurnalistik, mungkin buku dengan tajuk PKB 40 ini tidak akan lahir. "Sekuat-kuatnya sebuah ingatan tetap lebih kuat tulisan biar pudar sekali pun. Dengan menulis setidaknya itu dapat membantu kamu dalam mengingat, mengekspesikan suatu hal, dan sebagainya. Bahkan melalui tulisan, dapat berdampak pada sekitar baik positif ataupun sebaliknya. Jadi jangan beranggapan menulis hanya untuk jurnalistik. Menulis lebih besar dari itu. Sementara jurnalis bisa jadi wadahnya," pesan Cindy mengharap generasi muda mampu mengikuti jejaknya dan tidak takut untuk mencoba. (nam)