1609081229_c1f491969df03aa86882.jpg

PERS IBARAT BUNGKUS KACANG

Penulis

layouter

desainer_cover

penerbit

alamat_penerbit

tebal_buku

edisi

tahun_terbit

Judul buku : Bukan Sekedar Bungkus Kacang 

Pengarang : Fatima Gita Elhasni

Penerbit : Madyapadma Journalistic Park SMAN 3 Denpasar 

Tahun terbit : 2016 

Cetakan : Ke-1 

Jumlah halaman : 94 

Dalam buku antologi yang berjudul "Bukan Sekedar Bungkus Kacang" karya Fatima Gita Elhasni ini terdapat 16 buah judul cerita yang dikemas dalam 94 halaman. Buku antologi ini berisi kumpulan curahan rasa penulis yang dituangkan dalam kata-kata sederhana namun penuh makna. Isinya sangat dekat dengan kehidupan kita, sehingga pembaca pun dapat langsung merasakan apa yang dirasakan oleh penulis. 

Buku antologi "Bukan Sekedar Bungkus Kacang" adalah kumpulan rasa yang dituang dalam kata-kata penuh makna karya Fatima Gita Elhasni. Buku ini tak hanya bercerita tentang bagaimana pers di Indonesia saat ini, tetapi juga tentang bagaimana kehidupan masyarakat dewasa ini serta peran pemerintah di dalamnya. Kehadiran buku ini memberikan banyak hikmah dan pesan yang bisa dipetik. Salah satu judul cerita di dalamnya yaitu "Bukan Sekedar Bungkus Kacang" yang menceritakan tentang melencengnya fungsi pers terutama di fungsi edukasi, yang mana fungsi tersebut adalah memberikan berita informatif dan bermanfaat. Penulis mengkritik pemberitaan di Indonesia yang tidak bermutu, sehingga pers lebih sering dijadikan bungkus kacang atau selingan di kehidupan masyarakat kita. Tidak ada manfaat atau pesan moral dari berita yang disiarkan, yang tanpa sadar menurunkan martabat pers sebagai sampah belaka. 

Pada cerita yang berjudul "Jangan Ada Bensin Diantara Kita" dan "Penghancuran Moral Melalui Pers" menceritakan tentang penyimpangan fungsi pers sebagai kontrol sosial. Para wartawan berlomba-lomba mencari berita tanpa kejelasan fakta dan disajikan dengan bahasa yang hiperbola untuk meraup keuntungan semata. Lambat laun, rakyat Indonesia akan berjalan menuju penghancuran moral susila. Pers seharusnya menjadi 'air' penenang, bukan malah menjadi 'bensin' yang menyulut kemarahan semua pihak hanya demi pemberitaan semata. Pada judul "Ngewalek Montor", berisikan keluh kesah pengalaman penulis saat masih duduk di bangku kelas 8 dan 9 SMP. Dimulai dari pengalaman dirinya yang diejek teman sekolah karena masih diantar-jemput oleh orang tua, ketidaknyamanan ketika menaiki Bus Trans Sarbagita untuk bersekolah, serta kecurangan kondektur bus yang berdalih tidak mempunyai uang receh 500-an untuk kembalian para pelajar. Berbeda dengan kisah penulis yang merasakan duduk di bangku sekolah, cerita yang berjudul "Saya Masih Bekerja" berisikan tentang sejumlah anak di bawah umur yang merelakan masa menimba ilmunya untuk berlomba mencari nafkah di berbagai tempat wisata, jalanan, dan juga pasar. 

Cover buku "Bukan Sekedar Bungkus Kacang" ini cukup menarik, gaya tulisan judul buku mudah dibaca, ditambah dengan ilustrasi koran dan kacang untuk merepresentasikan judulnya. Gaya bahasa yang digunakan pada isi buku pun mudah dimengerti, bagi orang awam sekalipun. Permasalahan yang dibahas di dalamnya dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembaca akan merasa bahwa pendapatnya disuarakan melalui buku ini. Di balik banyaknya kelebihan buku ini, sayangnya terdapat kesalahan dalam pengetikannya. Pada judul cerita "Saya Masih Bekerja", halaman 44, seharusnya pasal yang mengatur tentang fakir miskin dan anak terlantar adalah Pasal 34 ayat 1 UUD 1945, bukan Pasal 31 ayat 1 karena itu merupakan pasal tentang pendidikan. Diharapkan kedepannya agar editor lebih teliti supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama, terlebih lagi ini menyangkut butir pasal UUD 1945. Terlepas dari kesalahan tersebut, buku ini sangat layak untuk dibaca karena mengandung banyak pesan moral yang mendalam. (I Gusti A. A. Citra P. D.)