PPDB 2018: Menyimpan Banyak Keluhan Pelajar
Penulis
layouter
desainer_cover
penerbit
alamat_penerbit
tebal_buku
edisi
tahun_terbit
Judul buku : PPDB: Kekacauan Yang Tak Kunjung Henti
Pengarang : Ayu Susanthi, Mutiara Diva, Puan Maharani, Tjok Istri S, Ayu Savitri, Putra Puja W, Eka Kusuma W, Sintia Arnita, Abiananda Klapodhyana, Berliana Putri, Rama Gerald Jade, Rika Noviyanti, Abhicanika Pranata D, Dwika Wahyudinata
Penerbit : Madyapadma Journalistic Park SMAN 3 Denpasar
Tahun terbit : 2018
Edisi : I
Jumlah halaman : 100 halaman
Buku antologi yang berjudul "PPDB: Kekacauan Yang Tak Kunjung Henti" ini merupakan kumpulan karya 14 penulis berbakat SMAN 3 Denpasar. Buku ini berisikan 14 judul cerita berbeda dari kacamata 14 penulis. Masing-masing penulis menuangkan isi pikirannya ke dalam sebuah karya. Sesuai judulnya, buku ini membahas mengenai kekacauan pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2018. Kekecewaan para peserta didik juga orang tua mereka disampaikan gamblang di buku terbitan Madyapadma itu. Kala itu pemerintah seolah tutup mata atas kekisruhan yang disebabkan oleh kebijakan baru mereka.
Buku ini juga berisikan kritik kepada pemerintah. Salah satu judul ceritanya yaitu "PPDB Prestasi: Kualitas Pendidikan Jangan Sampai Hilang" menceritakan tentang kekacauan sistem penerimaan siswa baru yang memicu polemik antara orang tua, siswa, dan pemerintah. Dimana kala itu PPDB menerapkan skala prioritas. Siswa yang memiliki piagam nasional dan internasional berpeluang lebih besar untuk diterima di sekolah pilihan, meski peringkat harapan, dibandingkan siswa yang memiliki piagam juara di tingkat kabupaten atau kota. Hal tersebut tak hanya mengecewakan siswa yang berprestasi, tetapi juga orang tua mereka.
Pada judul "Hindari Melanggar UUD", memuat bagaimana ketidakadilan jumlah kuota penerimaan jalur prestasi yang hanya berjumlah 5% dari total daya tampung. Itupun hanya mengakui keberadaan siswa yang memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh pemerintah saja. Seolah siswa lain yang memenangkan kejuaraan yang bukan dari pemerintah tak ada harganya. Pada cerita yang berjudul "Antara PPDB 2017 vs 2018" berisi tentang perbandingan PPDB pada kedua tahun tersebut, yang mana sistem di tahun 2018 sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kemunculan jalur zonasi menggeser kuota jalur penerimaan lainnya, terutama jalur prestasi. Daya tampung jalur zonasi mencapai 90%, yang berarti peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dengan sekolah yang dituju lebih diprioritaskan daripada siswa yang memiliki segudang prestasi. Dikhawatirkan lambat laun, jalur zonasi akan menurunkan minat dan semangat peserta didik untuk berprestasi.
Ilustrasi gambar yang mendukung dan background yang penuh warna membuat bagian cover pada buku ini terlihat menarik. Sayangnya, font dan ukuran tulisan yang digunakan kurang sesuai, karena judul buku jadi sulit dibaca dari jarak jauh. Beralih dari bagian cover, isi buku ini sangat relevan dengan keadaan yang terjadi pada saat itu hingga kini. Kehadiran buku ini menyampaikan pesan pelajar kepada pemerintah yang seolah tak lagi menginginkan siswa berprestasi dengan dalih pemerataan kualitas pendidikan. Bahasa yang digunakan pun sederhana namun tetap menyampaikan maksud dengan tepat. Secara keseluruhan, buku ini sangat layak dibaca karena mengedukasi pembaca. ( I G. A. A. Citra Perama D.)