Indonesia Pernah Perang Saudara?
Penulis
layouter
desainer_cover
penerbit
alamat_penerbit
tebal_buku
edisi
tahun_terbit
Judul buku : Demokrasi Jadi Tragedi
Penulis : Ni Komang Kartika
Penerbit : Madyapadma Journalistic Park, SMAN 3 Denpasar
Tahun terbit : 2020
Edisi : I
Jumlah halaman : 109 halaman
"Kini tak lagi perkara 01 dukunganku atau 02 jagoanku, bukankah seharusnya dari awal tetap menjadi Indonesiaku ?"
Terkadang bicara politik di Indonesia dapat membuat tertawa sendiri. Aksi dan adu debat yang berbau politik bukannya menjadi tontonan serius, namun malah menjelma bagai acara komedi. Entah kemana hilangnya aura hukum yang ditakuti masyarakat, mereka yang jadi boneka-boneka hukum malah kebanyakan berperilaku yang tak pantas, membuat masyarakat bertanya-tanya sendiri, beginikah pemimpin-pemimpin bangsa kami? Sudahkah mereka becermin sebelum menjadi sosok 'panutan'? Jawabannya bahkan sudah terbongkar di sepanjang pemilihan umum 2019 ini, entah itu pemilihan umum legislatif maupun pemilihan umum presiden dan wakil presiden Indonesia. Sungguh sebuah drama komedi berjilid-jilid yang berakhir dengan tragedi bak perang saudara.
Buku karya Ni Komang Kartika ini mengulik perjalanan dan lika-liku permasalahan kehidupan manusia dari berbagai aspek. Seperti "Dari Demokrasi ke Tragedi" yang membahas aspek politik Indonesia yang penuh kontroversi, terutama saat masa-masa pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang dilakukan 2019 lalu seolah memecah belah Indonesia menjadi 2 kubu bak perang saudara. Ada juga "Pendidikan Lemah, Salah Siapa?" membahas kualitas pendidikan di Indonesia. Dibahas pula mengenai kegiatan donor darah yang tergolong aspek sosial dan kesehatan dalam tulisan berjudul "Buang Ragumu, Ulurkan Tanganmu".
Salah satu tulisan dalam buku ini yang berjudul "Dari Demokrasi ke Tragedi" membahas mengenai pesta demokrasi Indonesia yang berujung tragedi. Semenjak 23 September 2018 hingga 13 April 2019 lalu, masa kampanye pemilihan umum sedang gencar-gencarnya berlangsung, berusaha menggaet suara masyarakat sebanyak-banyaknya. Hampir delapan bulan lamanya masyarakat dibuat kebingungan sendiri, entah yang mana yang harus dipercaya. Masyarakat diharuskan mengisi lima jenis surat suara sekaligus, yakni untuk memilih anggota DPD, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, serta pemilihan presiden dan wakil presiden. Antusiasme warga Indonesia turut serta menyemarakkan jalannya pesta demokrasi ini. Namun melirik ke pemilihan umum calon presiden dan wakil presiden ini, Indonesia seperti terpecah belah menjadi dua kubu. Kedua kubu saling mendukung jagoannya masing-masing namun diwarnai dengan konflik dan ditaburi hoax-hoax terutama di media sosial. Puncak konflik pemilu ini pun berlangsung ketika hasil penghitungan suara dari KPU dilucurkan, yakni pasangan calon 01 lebih unggul dari pasangan calon 02. Di situlah amarah kubu pasangan calon 02 meledak dan melakukan demo serta aksi-aksi anarkis. Keadaan Indonesia saat itu sungguhlah memilukan dan memalukan. Menyebut-nyebut pesta demokrasi di awal cerita, padahal di akhir halaman tak seorang pun berhasil tersenyum bahagia. Selain "Dari Demokrasi ke Tragedi" masih banyak diulik perjalanan dan lika-liku permasalahan di kehidupan manusia dari berbagai aspek kehidupan yang penuh cerita.
Buku dengan 109 halaman ini diterbitkan ketika momentum Covid-19, dimana beberapa tulisannya juga membahas mengenai pandemi ini, seperti "COVID 19: Berkawan Tak Pandang Usia" dan "Cantiknya Cermin Antik dari Leluhur Bali" berisi cara menyikapi wabah dari aspek spiritual berdasarkan ajaran leluhur Bali. Sampul buku ini dibuat cukup menarik, tulisan judul di pojok kiri atas dan gambar ilustrasi di pojok kanan bawah menciptakan keseimbangan artistik. Gambar ilustrasi berwarna turut menambah daya tarik buku ini. Namun terdapat penggunaan diksi yang mungkin sedikit asing bagi beberapa pembaca. Alhasil hal tersebut membuat pembaca sedikit kesulitan menangkap maksud penulis. Terdapat pula kesalahan penulisan dalam buku. Walaupun demikian, terlepas dari kekurangannya, buku ini bisa menjadi pilihan yang tepat terutama bagi orang-orang yang suka mengamati permasalahan di kehidupan sehari-hari, mulai dari yang sepele hingga kompleks. Buku yang satu ini juga dapat menggugah pemikiran kritis pembaca. (Putu Jyotira Dias)